POROSKOTA.COM, JAKARTA – Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas mengungkapkan, tingkat pengangguran berusia 16 hingga 24 tahun di kembali naik menjadi 19,9 persen, di mana ini merupakan rekor tertinggi.

Selain itu, terdapat data yang juga menunjukkan adanya krisis kepercayaan antara dan rumah tangga China, menambahkan ancaman lain terhadap perekonomian dunia karena permintaan dari China tentu akan mengalami penurunan.

“Dampak dari perlambatan ekonomi China tidak main main lho. Hal ini terasa hingga di seluruh , di mana semakin mengalami penurunan, dolar Amerika Serikat mengalami kenaikan, karena ada aura pesimis di pasar,” ujar dia melalui risetnya, Kamis (18/8/2022).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Lalu di tengah situasi dan kondisi saat ini pun, China masih terus menggunakan kebijakan Covid zero, di mana penguncian akan dilakukan apabila ada wabah besar yang terjadi.

Alhasil, hal ini semakin membuat pelaku pasar dan investor pesimis, bahwa akan bangkit tahun ini.

“Bahkan banyak proyeksi yang mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi China akan turun di bawah 4 persen,” kata Nico.

Sebagai Informasi, data yang keluar kemarin seperti, produksi di Negeri Tirai Bambu secara tahunan turun dari sebelumnya 3,9 persen menjadi 3,8 persen.

Penjualan ritel secara tahunan, juga mengalami penurunan dari sebelumnya 3,1 persen menjadi 2,7 persen. , juga mengalami penurunan bahkan lebih dalam dari sebelumnya 6,1 persen menjadi 5,7 persen.

Dengan data data perekonomian kurang baik inilah, Bank Sentral China kembali memutuskan untuk memangkas tingkat 1 tahun, sebagai bagian dari langkah langkah yang diharapkan dapat membantu mengakomodir pertumbuhan di masa akan datang.

“Namun pertanyaannya adalah apakah yang dilakukan akan memberikan dampak atau tidak terhadap pertumbuhan ekonomi? Kami melihat, tidak ada dampak yang mungkin terasa dalam jangka waktu pendek di rengah situasi dan kondisi saat ini,” tutur Nico.

Karena selain, bauran kebijakan fiscal dan moneter, kebijakan terkait dengan Covid pun tampaknya harus dapat di sesuaikan dan beradaptasi dengan keadaan.

Dia menambahkan, masalahnya adalah kebijakan Covid 19 telah mendorong rumah tangga, dan bisnis enggan untuk melakukan pinjaman.

“Jadi suka atau tidak, sekalipun kebijakan moneter di ambil, tapi banyak yang tidak melakukan pinjaman karena bisnis tidak bisa tumbuh karena kebijakan Covid yang membuat masyarakat juga enggan melakukan konsumsi. Sejauh ini pertumbuhan kredit saja sudah berada di posisi paling lambat sejak tahun 2017 silam,” pungkasnya.