POROSKOTA.COM, JAKARTA — Meski banyak tantangan yang dihadapi saat ini, Tbk (BBTN) tetap optimistis mampu meningkatkan .

Bahkan ini memproyeksikan kinerja kredit sektor perumahan tahun depan lebih tinggi dari tahun ini.

Saat ini tantangan yang dihadapi cukup kompleks, terutama kenaikan dan kebijakan serta laju yang cukup tinggi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Direktur Utama BTN, , mengatakan pihaknya optimistis target tersebut dapat tercapai karena kebutuhan perumahan masih sangat besar.

Namun ia tetap mewaspadai terkait dampak kebijakan bunga kredit dan likuiditas yang memengaruhi permintaan kredit.

Sejauh ini, BTN memperhatikan dua aspek yakni pertama, terkait likuiditas.

Bank BTN sudah punya strategi untuk mengamankan-nya dalam jangka panjang lewat kerjasama partnership dengan lembaga atau korporasi dalam penyaluran Kredit Kepemilikan Rumah (KPR).

Selain melakukan kerjasama terkait penyaluran KPR subsidi yang merupakan program pemerintah, BTN juga melakukan kerjasama dengan lembaga lain seperti BPJS Tenagakerjaan dan BP Tapera untuk menyalurkan KPR kepada pada penerima manfaat di masing-masing lembaga.

“Partnership yang sudah berjalan saat ini ada Tapera dan BPJS Tenagakerjaan. Nanti akan ada lagi kerjasama dengan lembaga-lembaga lain.

Skema seperti ini mendatangkan manfaat bagi BTN dalam penyediaan likuiditas yang sepadan dengan umur KPR. Sehingga isu likuiditas sudah bisa kita tangani,” jelas Haru baru-baru ini.

Kedua adalah suku bunga. Naik tidaknya suku bunga kredit bisa memengaruhi permintaan KPR. Namun, Haru melihat pengaruhnya tidak besar selama daya beli masyarakat tidak terganggu.

Kenaikan suku bunga acuan yang sudah dilakukan Bank Indonesia (BI) pada akhirnya akan ditransmisikan bank ke bunga dana dan selanjutnya ditransmisikan suku bunga kredit termasuk KPR.

Sehingga secara umum, kata Haru, bunga kredit akan naik ke depan.

Hingga saat ini, Haru mengatakan, BTN belum menaikkan bunga KPR.

Bahkan, perseroan masih memberikan beberapa keringanan dengan program promo.

Namun, dalam beberapa bulan ke depan, perseroan akan melakukan evaluasi terkait suku bunga kredit dengan memperhatikan kondisi likuiditas dan persaingan di pasar.

Dengan melihat secara keseluruhan kondisi yang ada saat ini, Haru yakin bahwa pertumbuhan kredit perseroan tahun depan, terutama di sektor perumahan, akan lebih tinggi dari tahun ini.

“Dengan asumsi Covid-19 semakin terkendali dan tensi geopolitik mereda,” pungkas Haru. Dina (Mirayanti Hutauruk/Noverius Laoli)

Sumber: Kontan