POROSKOTA.COM, JAKARTA — Perekonomian dunia yang sedang menghadapi tekanan akibat pandemi Covid-19 dan geopolitik memunculkan ancaman sekaligus atau disebut .

mengatakan, langkah memegang uang tunai atau memang bisa dilakukan, tapi jika kondisinya hanya sebatas resesi saja.

“Teorinya, kalau terjadi resesi, maka cash is the king. Namun hati-hati, resesi ini juga dibarengi inflasi tinggi, cash menurun nilainya saat inflasi tinggi,” ujarnya melalui pesan singkat kepada Poroskota.com, Kamis (29/9/2022).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Karena itu, menurut dia solusinya adalah memiliki dana parkir yang siap digunakan, karena saat resesi biasanya memunculkan banyak aset dijual murah seperti .

“Selain itu dengan akan naik untuk menandingi inflasi, maka deposito, obligasi, dan sukuk akan lebih menarik sebagai instrumen ,” kata Ahmad.

Dihubungi terpisah, Perencana keuangan dari Universitas Indonesia Budi Frensidy menilai, pilihan investasi untuk investor pemula atau konservatif, bisa dengan masuk ke Obligasi Ritel (ORI), sukuk ritel, dan reksa dana pasar uang.

Sementara, jurus lain berlaku untuk investor saham dalam berinvestasi ketika arus dana asing terus ke luar dari pasar modal tanah air seperti saat ini dan beberapa pekan ke depan.

Caranya yakni dengan melakukan diversifikasi aset atau portofolio ke dalam beberapa kelas aset, termasuk halnya saham.

“Begitu juga untuk dana yang ditaruh dalam kelas aset saham. Koleksi beberapa saham, katakan sepuluh, jangan hanya satu sampai dua saham saja,” pungkasnya.