POROSKOTA.COM, JAKARTA – Kejadian berhenti atau mendadak bisa menyerang semua rentang usia.

Henti jantung mendadak merupakan kondisi organ jantung berhenti total tanpa ada awal penyertanya.

Fenomena ini terjadi akibat adanya gangguan pada ‘listrik’ jantung sehingga aliran darah yang membawa asupan energi dan oksigen terhenti.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pompa jantung yang berhenti secara mendadak ini menyebabkan darah tidak mengalir hingga dapat menyebabkan kerusakan permanen pada organ otak.

Henti jantung mendadak bahkan dapat menyebabkan kematian jiwa.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari Siloam Hospitals Jantung Diagram, Sp.JP (K) FIHA., menjelaskan, kondisi gawat darurat tersebut memerlukan penanganan medis atau pertolongan sesegera mungkin.

Langkah pertama adalah segera menghubungi tim mobil ambulans dan bagi yang terlatih atau berkompetensi melakukan pijat jantung atau tehnik RJP ( resusitasi jantung paru) atau banyak dikenal CPR.

Teknik tersebut dilakukan guna merangsang jantung agar kembali bergerak aktif. Dokter Doni turut mengingatkan bahwasannya secara keilmuan, henti jantung mendadak (vertikel fibrilasi) berbeda halnya dengan serangan jantung.

“Kondisi henti jantung mendadak merupakan akumulasi dari rangkaian serangan jantung yang sebelumnya pernah diderita pasien. Ada pula kasus tertentu penyebab henti jantung mendadak, yang umumnya disebabkan oleh kecelakaan,” ujarnya pada bincang sehat yang diselenggarakan RS Jantung dan Diagram Siloam pada Live Instagram, Selasa (20/9/2022) di kota Cinere, Depok.

Henti jantung mendadak dibagi oleh dua bagian yaitu, Sudden Cardiac Arrest yaitu setelah pasien dapat ditolong secara medis dan Sudden Cardiac Death atau pasien yang tidak tertolong”, tutur dr Doni Friadi Sp.JP (K) FIHA., melalui edukasi bincang sehat yang dihelat Ruumah Sakit Jantung dan Diagram Siloam pada Live Instagram, Selasa (20/09).

Dr Doni Friadi menjelaskan, penanganan awal kondisi gawat darurat Henti Jantung Mendadak melalui tehnik RJP ( resusitasi jantung paru) atau dikenal dengan sebutan CPR, dilakukan sesegera mungkin bagi yang berkompetensi melakukannya.

“Kondisi ‘jantung berhenti’ ini adalah kondisi terburuk, tindakan resusitasi jantung paru dari si penolong yang terlatih dan cepat akan memperbesar kemungkinan jantung kembali bergerak atau berdetak sambil menunggu petugas medis, ambulan atau tiba di IGD rumah sakit,” jelas dr Doni.

Penyebab Utama Henti Jantung

Dokter Doni yang juga konsultan Aritmia Elektrofisiologi ini menjelaskan, fenomena Henti Jantung Mendadak dapat disebabkan oleh berbagai hal.

Secara umum henti jantung mendadak disebabkan adanya riwayat dari penderita penyakit jantung koroner. Pasien dengan kondisi ‘Jantung membesar’, kelainan di otot atau katup jantung bahkan adanya gangguan irama jantung.

“Kondisi penyakit Stroke perdarahan atau kondisi tenggelam atau benturan keras pada wilayah dada dapat menyebabkan terhentinya organ jantung berdetak,” ungkapnya.

“Faktor genetik atau keturunan turut mempengaruhi timbulnya kondisi jantung berhenti mendafdak. Pahami bahwasannya kondisi henti jantung mendadak dapat terjadi pada semua usia”, tutur Doni Friadi.

Pada pasien henti jantung mendadak yang terselamatkan tentunya, data menunjukan bahwasannya sebagian besar ‘ mereka’ telah merasakan gejala gejala awal berupa : pusing, lemas, nyeri dada, sesak napas dan .

Bahkan dari hitungan minggu hingga satu bulan sebelumnya. Konsultasi dengan dokter spesialis melalui pola deteksi dini adalah keharusan.

“Kondisi pasien selamat dan stabil setelah henti jantung mendadak, tentunya tim dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mendiagnosa penyebab dan pemicunya,” bebernya.

Antar lain dengan tes darah, rontgen dada, USG jantung, kateterisasi jantung dan beberapa tindakan medis lanjutan yang diperlukan lainnya, seperti pemberian obat sesuai kriteria pemeriksaan listrik jantung (EP Study), Implan alat kejut jantung ( ICD), Angioplasti, bahkan sampai Operasi perbaikan dan Bypass jantung yang disesuaikan dengan kondisi pasien.

Tata Laksana Pencegahan

Disebutkan kasus ]henti jantung mendadak dapat dicegah dengan menjalani pemeriksaan rutin, melakukan deteksi dini serta mengelola gaya hidup yang sehat, yaitu menjaga jantung.

Antara lain menghindari kebiasaan atau berhenti merokok, hindari penyebab faktor resiko penyakit Obesitas, membatasi konsumsi alkohol dan memastikan asupan makanan sehat untuk organ jantung. Cara lainnya yang juga direkomendasikan adalah rutin berolahraga dan mengelola stres dengan baik.