POROSKOTA.COM, JAKARTA – Masyarakat dihebohkan dengan data jumlah penderita di Bandung. Dilaporkan ada ratusan mahasiswa di kota itu mengidap HIV.

Situasi ini menjadi pertanda bahwa anak muda rentan terkena HIV dan butuh edukasi seksual dan reproduksi.

Hal ini diungkapkan oleh Direktur Yayasan Inisiatif Perubahan Akses Akses Menuju Sehat (IPAS), , MPH dalam Conference on Indonesia Family Planning and Reproductive Health (ICIFPH) 2022 beberapa waktu lalu.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Memang jika berdasarkan data di seluruh dunia, anak muda memang punya kerentanan cukup tinggi terhadap HIV.

Anak muda di sini dalam rentang usia 15-24 tahun. Sedangkan untuk dewasa muda adalah 19-24 tahun.

“Kita tahu bahwa remaja itu punya kerentanan cukup tinggi terhadap HIV, ada banyak faktor. Terutama faktor perubahan anak menjadi remaja. Baik itu perubahan biologis, hormonal, psikologis dan sebagainya,” ungkap Marcia saat diwawancarai oleh Poroskota.com, Selasa (30/8/2022).

Kata Marcia, mereka tidak punya cukup pengetahuan tentang tubuhnya. Pengetahuan tentang tubuh, kata Marcia tidak hanya seputar hubungan seksual. Namun dimulai dengan mengenali fungsi tubuh.

Kemudian bagaimana menjaga diri dengan hubungan relasi yang sehat. Yang pastinya relasi tanpa kekerasan, dan semua itu harus diajari.

“Orang muda adalah mereka yang dikondisikan untuk membuat keputusan tanpa informasi dan pengetahuan yang benar. Itulah kenapa mereka rentan,” kata Marcia lagi.

Seringkali fisik dianggap telah matang. Padahal belum secara psikologi. Anak muda masih dalam proses pembentukan kepribadian cara berpikir lebih dewasa.

Situasi ini ditambah dari mereka tidak punya informasi dengan akses yang benar. Saat ini mesti didorong adalah memberikan akses informasi yang tepat ke remaja. Jangan sampai anak mengakses informasi tidak tepat dan berbahaya.

“Perlu memberikan pengetahuan yang tepat dan benar tentang seksualitas, tentang , sehingga remaja mampu membuat keputusan terbaik untuk dirinya,”papar Marcia lagi.

Jika remaja teredukasi, maka ia akan tahu cara memproteksi kesehatan diri dari kemungkinan gangguan seksual reproduksi termasuk HIV.

Selain itu, menurut Marcia pemerintah perlu lebih berkomitmen lagi. Meski regulasi dan program mungkin sudah ada, pemerintah punya tugas lain. Yaitu bagaimana kebijakan dan program yang sudah bisa dinikmati seluruh tanah air.

“Remaja punya informasi tepat dan benar dimana pun dia berada. Sehingga bisa membuat keputusan penting dalam hidupnya. Tentu berbasis pengetahuan yang tepat dan benar,” pungkasnya.