PorosKota.com, JAKARTA – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi () memprediksi bakal mengalami penurunan di bawah 100 dolar AS per barel pada tahun 2023.

Kepala SKK Migas, mengatakan, saat ini fluktuasi harga minyak dunia sedang mengalami tren peningkatan yang cukup tinggi.

Salah satu pemicunya yakni adanya konflik geopolitik Rusia dan Ukraina, yang menyebabkan naiknya , termasuk utamanya harga minyak dan gas.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Di semester I-2022, tumbuhnya ekonomi global pasca pandemi dan krisis suplai sanksi Rusia menyebabkan harga mencapai 127 dolar AS per barel (Maret 2022) dan rata-rata Juni 117,5 dolar AS per barel,” ucap Dwi di Kantor SKK Migas, (16/7/2022).

“Di 2023, suplai minyak akan menyeimbangkan permintaan, sehingga harga di sekitar 90 dolar AS per barel,” sambungnya.

Dwi melanjutkan, prediksi harga minyak dunia di 2023 yang ia katakan, dengan asumsi apabila konflik Rusia dan Ukraina sudah reda.

Dalam kesempatan tersebut, Dwi Soetjipto juga mengungkapkan, situasi global yang saat ini terjadi, sangat mempengaruhi kinerja sektor migas global.

Tak hanya konflik geopolitik di Eropa, SKK Migas mencatat terdapat 2 hal lain.

Pertama, post pandemi Covid-19 memberikan dampak meningkatnya permintaan migas global. Dan hal tersebut masih menjadi perhatian khusus.

Kemudian yang kedua adalah, tuntutan terkait pengurangan emisi karbon.

Adanya tuntutan tersebut membuat sejumlah investor tertarik untuk menginvestasikan ke proyek-proyek atau sektor ramah lingkungan dan terbarukan.

Hal ini lah yang membuat di hulu migas menurun, dan kemungkinan akan terjadi hingga ke depannya.

“Tuntutan net zero emission dampaknya akan dirasakan oleh investasi di hulu migas, dan diperkirakan turun,” ucap Dwi.

“Dalam kondisi sekarang ini orang-orang (cenderung) masih wait and see terkait investasi jangka panjang (di hulu migas),” pungkasnya.