POROSKOTA.COM, JAKARTA – Menteri Kesehatan RI (Menkes) mengungkapkan, pasien pertama cacar monyet di Indonesia terinfeksi varian dari kelompok Afrika Barat Clade IIb lineage B.1.

Varian tersebut relatif ringan dan tidak memiliki risiko fatal seperti varian dari kelompok Afrika Tengah.

“Yang ada di Indonesia adalah varian yang dari Afrika Barat, kemarin, bisa dilihat dengan genom sikuensing biasa,” kata Budi dalam RDP bersama Komisi IX , Selasa (30/8/2022).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Variannya ada dua, , dan varian Afrika Tengah, varian Afrika Tengah ini lebih mematikan, sedangkan Afrika Barat itu yang kurang mematikan,” lanjut Budi.

Kini, kondisi pasien 27 tahun asal itu telah membaik namun masih menjalani isolasi mandiri.

Di Indonesia sampai saat ini, dari 42 kasus yang diperiksa, satu terkonfirmasi Monkeypox, 38 dinyatakan bukan Monkeypox atau cacar biasa. Serta 3 kasus sedang dalam proses penelitian.

Sementara di tingkat dunia, angka kasus monkeypox terus meningkat yaitu 48.000 kasus di 94 negara dengan kematian yang cukup rendah.

“Ada 13 kematian, jadi sekitar 0,02 persen dan kematiannya bukan karena virus cacar monyet. Biasanya infeksi menyebabkan secondary infection bisa pneumonia atau meningitis,” ungkap Menkes

Adapun pengobatan, cukup dengan obat-obatan biasa.

“Dipastikan jangan sampai mereka terjadi secondary infection dan rumah sakit rujukan sudah kita persiapkan untuk bisa menangani masalah Monkeypox ini,” ungkap mantan wamen BUMN ini.

Ahli Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman mengatakan, varian yang saat ini diakui dan dirilis oleh WHO pada pertengahan Agustus 2022 adalah Congo Basin paling ganas (Clade I) dan kedua adalah Old West Africa Clade IIA, dan IIB dari Afrika Barat.

Adapun strain mayoritas yang menyebar di banyak negara, adalah jenis virus clade IIB yang relatif lebih ringan.

“Berdasarkan data sejauh ini secara global, varian clade IIb memang terlihat menyebabkan gejala lebih ringan termasuk potensi menyebabkan kematian lebih kecil. Berdasarkan epidemiologi data Afrika angka kematian 3,6 persen, untuk data global di bawah 1 persen . Berbanding dengan Clade I itu angka kematian di atas 10 persen,” terang Dicky, Rabu (31/8/2022).

Meskipun relatif lebih ringan, namun belum diketahui secara pasti dampak jangka panjang setelah terpapar cacar monyet. “Ini yang harus diwaspadai dengan prinsip mencegah,” tegas Dicky.

Pasalnya, saat ini di dunia cacar monyet masih belum menyerang kelompok rentan seperti anak, ibu hamil, pasien komorbid serta yang memiliki ganguan sistem imun. Karena, bila sudah menyerang kelompok rentan, bukan tidak mungkin fatalitas hingga kematian akan meningkat.

“Tetap waspada karena belum menimpa kelompok rentan. Kita ketahui clade IIb di Afrika sudah menimpa anak dan ibu hamil sehingga angka kematian mencapai 3 persen dan perlu diingat untuk Indonesia angka 3 persen itu tinggi ya bila dilihat dari jumlah penduduk Indonesia,” tutur Dicky.