POROSKOTA.COM – Setelah sempat dibuat menunggu oleh Erdogan, Presiden kembali dibuat menunggu oleh sebelum pertemuan mereka.

Dilansir livemint.com, sebuah video yang memperlihatkan Vladimir Putin berdiri menunggu Presiden Kirgistan, Sadyr Japarov viral di media sosial.

Keduanya bertemu di sela-sela (SCO) di Samarkand, Kamis (15/9/2022).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Video itu juga dibagikan oleh Pejabat , Anton Gerashchenko di akun Twitter-nya.

“Putin dipermalukan di depan umum lagi,” tulisnya.

“Sebelumnya kepala Kremlin membuat para pemimpin dunia menunggunya.”

“Sekarang presiden Kirgistan membiarkan dirinya terlambat sebelum bertemu dengan Putin.”

Video pertemuan Vladimir Putin dan Sadyr Japarov itu diambil oleh Ria Kremlin Pool.

Tampak Vladimir Putin datang terlebih dahulu dan menunggu sekitar 30 detik.

Ia terus berdiri sambil melihat-lihat kartu sembari menunggu kedatangan Sadyr Japarov.

Akhirnya, Presiden Kirgistan Sadyr Japarov tiba dan menyapa Presiden Rusia.

Beberapa orang mengomentari postingan tersebut.

Beberapa menyebut “Sekarang giliran Putin untuk menunggu”.

Orang lain berkomentar, “Ya ampun. Ketika presiden Kirgistan membuat Anda menunggu, segalanya tidak baik di surga.”

Ini bukan pertama kalinya Putin dibuat menunggu dalam sebuah pertemuan.

Dalam peristiwa serupa yang terjadi Juli lalu.

Vladimir Putin harus berdiri diam canggung di depan kamera selama 50 detik untuk menunggu Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan.

Kejadian itu pun mendapat banyak perhatian di media sosial.

Jauh sebelumnya, Putin terkenal biasa membuat para pemimpin dunia menunggunya dalam sebuah pertemuan.

Beberapa pemimpin dan tokoh terkemuka ikut menyoroti insiden tersebut dengan membagikan klipnya di media sosial.

Banyak yang mengaitkan insiden semacam itu sebagai indikasi perubahan sikap dunia terhadap Rusia setelah invasinya ke Ukraina.

KTT SCO

Presiden Rusia Vladimir Putin mengadakan pertemuan dengan tiga pemimpin Tengah di sela-sela KTT Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) di Samarkand, Uzbekistan pada hari Kamis (15/9/2022).

Dilansir Anadolu Agency, dalam pembicaraan dengan Presiden Kirgistan Sadyr Japarov, Putin mengatakan bahwa Rusia adalah mitra perdagangan dan ekonomi terkemuka Kirgistan, serta pemasok energi terbesarnya, menurut pernyataan Kremlin.

“Kami memiliki peningkatan yang signifikan dalam perdagangan tahun lalu, tumbuh 46,6 persen. Dan tahun ini, naik 30 persen selama lima bulan pertama, yang merupakan hasil yang baik,” katanya.

Putin juga berterima kasih kepada Sadyr Japarov karena mendukung bahasa Rusia di Kirgistan.

“Dukungan bahasa Rusia ini merupakan dasar untuk mengembangkan hubungan kami di banyak bidang lain,” katanya.

Sadyr Japarov lalu memuji keberhasilan Dana Pembangunan Kirgizstan-Rusia.

Ia juga telah menyetujui 3.200 proyek senilai $440 juta hingga saat ini.

Japarov menyebut Moskow sebagai sekutu strategis.

“Penting untuk memperkuat kerja sama yang saling menguntungkan antara Rusia dan Kirgistan dan kerja sama multidimensi.”

Sementara itu, dalam pertemuannya dengan Presiden Turkmenistan Serdar Berdimuhamedov, Putin mengatakan bahwa ada 190 perusahaan dengan partisipasi Rusia yang beroperasi di Turkmenistan.

Putin mengatakan Rusia bertujuan untuk mendiversifikasi hubungan ekonominya dengan Turkmenistan melalui bidang kerja sama lain, seperti pertanian dan industri tekstil.

Berdimuhamedov, pada gilirannya, memuji Rusia atas dukungan tegas dan tak tergoyahkan terhadap kebijakan luar negeri netral Turkmenistan.

Ia juga memuji inisiatifnya di PBB dan organisasi lainnya.

Putin juga mengadakan pembicaraan dengan Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev.

Setelah itu, para pemimpin menandatangani deklarasi tentang kemitraan strategis yang komprehensif.

Pada pertemuan trilateral dengan Presiden China Xi Jinping dan Presiden Mongolia Ukhnaagiin Khurelsukh, Putin mengatakan Moskow menginginkan kerja sama yang lebih besar dengan kedua negara karena mereka “berbagi pendekatan untuk isu-isu paling mendesak dari agenda internasional.”

Putin mengatakan format Rusia-China-Mongolia sangat penting, secara efektif melengkapi kerja sama bilateral dan memberikan nilai tambah yang tinggi bagi ketiga negara.